Editorial (Bagian 2) Alun-Alun Sinjai Bersatu adalah jantung interaksi warga. Setiap sore hingga malam, ratusan warga datang untuk berolahraga, bersantai, atau sekadar menikmati kuliner lokal. Di satu sisi, geliat UMKM di area ini menunjukkan betapa hidupnya perekonomian skala mikro di Sinjai.
Namun di sisi lain, sejak keberadaannya. kawasan ini tak pernah sepi dari berbagai permasalahan, mulai dari pembagian dan penguasaan lapak pada sejumlah oknum pejabat pemerntah daerah sampai pada persoalan area prakir.
Wajah alun-alun kerap disorot dengan ketidakteraturan, pemanfaatan ruang yang tumpang-tindih antara lapak dan area pejalan kaki, pengelolaan kebersihan dan limbah, usaha kuliner yang belum optimal. Hingga standardisasi produk dan estetika lapak yang masih seragam secara sporadis tanpa konsep tata kota yang jelas.
Kondisi ini menegaskan bahwa Alun-Alun Sinjai Bersatu tidak kekurangan daya tarik, melainkan kekurangan sentuhan manajerial yang terintegrasi, sehingga dengan pejabat Kadis Perindag ESDM, Hj. Sukmawati yang baru dilantik, menjadi harapan lahirnya sentuhan penataan yang lebih apik.
Harapan ini tentu tidaklah berlebihan, mengingat Hj. Sukmawati bukanlah orang baru di jajaran Dinas Perindag ESDM Sinjai, melainkan mantan pejabat struktural yang kini naik kelas dari jabatan kepala bidang pengembangan perdagangan menjadi Kepala Dinas Perindag dan ESDM.
Karenanya, kepada Kadis Perindag ESDM, Hj. Sukmawati, tentu semua pihak berharap akan adanya gerak cepat dengan sentuhan yang lebih terarah dalam mengubah potensi besar alun-alun sinjai menjadi aset daerah yang membanggakan.
Namun yang lebih utama yang diharapkan adalah sentuhan peningkatan kualitas pelaku usahanya dan mengarahkan Alun-alun menjadi panggung utama produk lokal Sinjai yang berkualitas tinggi.
Selain itu, penerapan sistem pembayaran nontunai (QRIS) serta penyediaan jaringan informasi usaha di kawasan alun-alun mungkin dapat dipertimbangkan dalam rangka mendorong modernisasi UMKM, disamping upaya kolaborasi berkala dengan komunitas seni, pemuda, dan pelaku ekonomi kreatif untuk menjadikan alun-alun sebagai pusat kegiatan kebudayaan yang hidup sepanjang tahun.
Mengelola Alun-Alun Sinjai Bersatu membutuhkan seni memadukan dua kepentingan: *menjaga mata pencaharian para pedagang kecil* sekaligus *memberikan ruang publik yang nyaman dan estetis bagi seluruh warga Sinjai*.
Publik kini menanti keberanian dan langkah nyata Kadis Perindag Sinjai. Jika dikelola dengan visi yang matang dan konsisten, Alun-Alun Sinjai Bersatu tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi etalase kemajuan ekonomi rakyat dan kebanggaan Kabupaten Sinjai.
No comments yet.